Jumat, 25 September 2026

Ternyata Ada Jejak Krakatau di Balik Lukisan The Scream Karya Edvard Munch?

Lukisan The Scream karya seniman Norwegia Edvard Munch merupakan salah satu karya paling ikonik dalam sejarah seni modern. Sosok di bagian depan dengan mulut terbuka, tangan menempel di kepala, dan tubuh yang seolah bergetar sering dianggap sedang berteriak histeris. Namun, Munch sendiri memberikan tafsiran yang lebih kompleks. Dalam catatan hariannya, ia menggambarkan pengalaman berjalan bersama dua temannya ketika matahari terbenam, kemudian langit berubah menjadi merah seperti darah dan ia merasakan sebuah “jeritan besar” melalui alam. Pengalaman tersebut menjadi dasar penting bagi lahirnya motif The Scream, yang kemudian dibuat Munch dalam beberapa versi.

Salah satu bagian paling menarik dari lukisan ini adalah langit merah-oranye bergelombang di belakang sosok utama. Warna dramatis tersebut kemudian dikaitkan dengan fenomena atmosfer setelah letusan Gunung Krakatau di Indonesia pada Agustus 1883. Letusan dahsyat Krakatau melepaskan material vulkanik dalam jumlah besar ke atmosfer. Partikel-partikel tersebut dapat menyebarkan cahaya matahari dan menghasilkan warna senja yang sangat merah serta spektakuler. Catatan ilmiah dan laporan sejarah menunjukkan bahwa fenomena cahaya senja akibat Krakatau terlihat hingga berbagai wilayah dunia, termasuk Eropa, pada akhir 1883 dan awal 1884. Bahkan, terdapat laporan fenomena cahaya atmosfer di Kristiania—nama Oslo pada masa itu—pada akhir November 1883.

Hubungan antara Krakatau dan The Scream pertama kali mendapat perhatian serius dari penelitian yang menghubungkan warna langit Munch dengan matahari terbenam akibat aktivitas vulkanik. Gagasannya cukup masuk akal secara kronologis: Krakatau meletus pada 1883, Munch mengalami pengalaman langit merah beberapa tahun kemudian, dan The Scream muncul pada 1893. Namun, di sinilah kisahnya menjadi lebih menarik. Penelitian meteorologi yang diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society pada 2018 menunjukkan bahwa belum dapat dipastikan bahwa langit dalam The Scream benar-benar merupakan gambaran langsung dari efek Krakatau. Analisis warna dan pola awan justru menemukan kemiripan yang lebih kuat dengan fenomena nacreous clouds, atau awan stratosfer berwarna-warni yang dikenal sebagai “mother-of-pearl clouds”.

Dengan demikian, menghubungkan The Scream dengan Krakatau harus dipahami sebagai hipotesis ilmiah dan sejarah seni, bukan fakta yang sudah terbukti secara mutlak. Yang dapat dipastikan adalah Krakatau memang menyebabkan perubahan warna langit yang luar biasa di berbagai belahan dunia setelah letusannya, sementara Munch memang menulis tentang pengalaman melihat langit berubah menjadi merah darah. Para peneliti juga menunjukkan bahwa fenomena optik Krakatau secara geografis memang mungkin terlihat dari wilayah selatan Norwegia pada musim dingin 1883–1884. Akan tetapi, pola visual pada lukisan Munch memiliki karakteristik yang menurut penelitian lain lebih cocok dengan awan nacreous.

Pada akhirnya, kekuatan The Scream justru terletak pada pertemuan antara pengalaman pribadi, alam, ilmu atmosfer, dan ekspresi emosional. Sosok di dalam lukisan bukan sekadar seseorang yang sedang berteriak, melainkan visualisasi pengalaman psikologis Munch ketika berhadapan dengan alam yang terasa begitu dahsyat. Langit merah yang mungkin terinspirasi oleh fenomena atmosfer—yang secara menarik memiliki kemungkinan hubungan dengan letusan Krakatau di Indonesia—kemudian diubah Munch menjadi bahasa visual tentang kecemasan dan kegelisahan manusia. Karena itulah kisah The Scream menjadi begitu menarik: sebuah letusan gunung berapi di Indonesia mungkin telah berkontribusi pada fenomena langit yang kemudian masuk ke dalam ingatan seorang seniman Norwegia, tetapi bagaimana pengalaman alam itu berubah menjadi salah satu simbol kecemasan paling terkenal dalam sejarah seni tetap menjadi bagian dari misteri karya Edvard Munch.